Di sini akan saya ceritakan semua yg berhubungan dengan anak dan bayi, jadi jangan sampai ketingalan ya.
RSS

Alice-Miranda at School


Judul: Alice-Miranda at School
Penulis: Jacqueline Harvey
Penerjemah: Reni Indardini
Penyunting: Herlina Sitorus
Penyelaras Aksara: Ike Shinta Dewi
Penerbit: Little K
Tebal: 274 hlm
Cetakan: 1, Juni 2011














            Alice-Miranda Highton-Smith-Kennington-Jones baru berumur 7 tahun ketika masuk ke Akademi Winchesterfield-Downsfordvale untuk Perempuan Muda Baik-Baik. Semua perempuan di keluarga Alice-Miranda bersekolah di asrama itu. Orang tuanya senang Alice-Miranda juga bersekolah di tempat yang sama, hanya saja tak menyangka ia akan mulai bersekolah di usia semuda itu. Pada hari keberangkatan ke sekolah, justru Alice-Miranda yang menenangkan ibunya agar tidak mengkhawatirkan dirinya.
            Alice-Miranda sampai ke sekolah ketika masih musim liburan. Ini memberinya kesempatan untuk berkeliling sekolah terlebih dahulu. Pertama-tama, ia bertemu dengan Mrs. Smith, juru masak sekolah yang terkenal galak kepada anak-anak. Namun, dengan santai Alice-Miranda minum teh dan makan kue bersama Mrs. Smith. Dari perkenalan itu Alice-Miranda jadi tahu kalau Mrs. Smith belum pernah bertemu cucunya. Miss Grim, kepala sekolah, tidak pernah mengizinkan Mrs. Smith untuk libur. Mengetahui hal ini, Alice-Miranda bertekad ingin menemui Miss Grim agar mau mengizinkan Mrs. Smith libur.

            Dalam perjalanan menuju ruangan Miss Grimm, Alice-Miranda bertemu Mr. Charles yang sedih karena tidak ada satupun bunga di lingkungan sekolah. Ia mengatakan Miss Grim tidak mau sekolah ditanami bunga. Ini membuat Alice-Miranda heran. Keinginan untuk bertemu Miss Grim semakin bertambah, dan menjadi lebih kuat lagi ketika ia berkenalan dengan Jacinta, siswa di sekolah itu. Jacinta tidak diizinkan ikut kejuaraan senam, padahal itu adalah hal yang paling diinginkannya.

            Usaha untuk bertemu Miss Grim tinggal selangkah lagi. Alice-Miranda kini berada di ruangan Miss Higgins, sekretaris pribadi Miss Grim. Miss Higgins tidak memperbolehkan Alice-Miranda bertemu kepala sekolah. Namun, Alice-Miranda langsung menerobos masuk karena ia merasa pertemuan itu sangat penting. dan alangkah kagetnya Alice-Miranda ketika ia justru mendapat sambutan dingin dari Miss Grim. Ia pun kembali ke kamar, tapi berkata akan menemui kepala sekolah lain kali.

            Alice-Miranda masih berusaha agar bisa bertemu Miss Grim. Seiring berjalannya waktu ia berkenalan dengan Millie. Ia juga telah bertemu Alethea, gadis kaya tapi sombong yang dibenci (dan ditakuti) seluruh siswa. Karena tidak kunjung mendapat kesempatan bertemu Miss Grim, Alice-Miranda akhirnya menyusun rencana agar Mrs. Smith dapat bertemu keponakannya. Tak lupa ia juga melakukan sesuatu agar Mr. Charles dapat menanam bunga di sekolah. Rupanya, Miss Grim tak terlalu suka dengan sikap Alice-Miranda ini. Miss Grim yang selama 10 tahun tidak pernah keluar ruangan, merasa terusik dengan kehadiran Alice-Miranda. Ia pun merencanakan rangkaian tes yang dianggapnya dapat membuat Alice-Miranda keluar dari sekolah. Simak petualangan Alice-Miranda menghadapi tes tersebut dalam buku ini.

            Kesan pertama membaca buku ini, saya geli dengan nama-nama yang ada di sini. Di halaman pertama saja, saya sudah bertemu dengan Alice-Miranda Highton-Smith-Kennington-Jones. Lalu, tak lama kemudian saya membaca Akademi Winchesterfield-Downsfordvale untuk Perempuan Muda Baik-Baik (yang dalam versi aslinya bernama Winchesterfield-Downsfordvale Academy for Proper Young Ladies). Nama-nama yang sulit diucapkan (setidaknya bagi saya), dan tetap memberi kesan lucu hingga di halaman-halaman terakhir. :)

            Cerita ini bukanlah kisah yang akan membuat pembacanya tegang karena konflik yang ada. Namun, sangat mungkin buku ini tetap 'mengikat' kita agar membaca sampai akhir. Saya sendiri sangat santai dalam membaca buku ini. Saya tak mengharapkan akhir yang menakjubkan dari cerita ini. Tapi saya sangat menikmati membaca kisah ini. Salah satunya karena karakter Alice-Miranda yang sangat mendominasi, juga cara penulis menuturkan kisah bisa membuat pembaca jatuh cinta pada sosok Alice-Miranda.

            Alice-Miranda at School ini merupakan seri pertama dari cerita Alice-Miranda. Kisahnya yang santai bisa membuat pembaca benar-benar menyegarkan pikirannya, jadi buku ini sangat cocok dibaca di waktu senggang. Karena tidak terlalu sarat konflik, juga banyak sikap yang bisa ditiru dari Alice-Miranda, saya pikir anak usia 10 tahun ke atas sudah bisa memahami cerita ini. Saya penasaran dengan apa yang akan dilakukan Alice-Miranda selanjutnya. Untuk petualangan Alice-Miranda kali ini, saya beri 3/5 bintang .

Karakter dalam judul buku:
            Alice-Miranda adalah anak kecil yang cerdas, ramah, dan baik hati pada semua orang. Yang tak kalah penting, ia juga berpikiran positif pada semua hal, juga selalu optimis. Mungkin pembaca akan menganggap Alice-Miranda adalah sosok yang mau tahuuu aja urusan orang lain. Tapi sebenarnya itu hanyalah cara dia agar bisa membantu orang tersebut. Saya sendiri sering gemes dengan kelakuan Alice-Miranda ini. ;)
0 komentar

The Trouble With Bernie



Judul: The Trouble With Bernie
Penulis: Sharon Bushell
Ilustrasi: Katie Miller
Penerbit: Road Tunes Media
Tebal: 160 hlm
Cetakan: Pertama, 2004













            Bernie Jones adalah seorang anak laki-laki yang sangat suka beraktivitas di alam bebas. Ia sering bermain dengan Alex, sahabat dekat yang tinggal di dekat rumah. Mereka sering bermain di semak-semak, menangkap serangga maupun ular. Meski keduanya cukup puas bermain berdua, mereka tak bisa menyembunyikan bahwa keinginan terbesar Bernie dan Alex adalah bergabung dengan The Blazing Bandits. The Blazing Bandits adalah geng anak laki-laki berumur di atas 12 tahun yang terdiri dari Clark Olsen (ketua geng), Brian Shaunessey, Richard dan Robert Patterson (si kembar), juga Larry Rustalio. Kelompok itu selalu terlihat keren di depan Bernie dan Alex. Sayang sekali, keduanya belum 12 tahun jadi tidak bisa bergabung di situ.

            Kesempatan emas datang ketika Clark Olsen justru menawari Bernie dan Alex untuk bergabung di The Blazing Bandits. Ternyata, ini adalah trik dari The Blazing Bandits karena orang tua Alex baru saja membeli bioskop di kota itu. Mereka berpikir, kalau Bernie dan Alex bisa bergabung, The Blazing Bandits akan mendapat tiket gratis untuk nonton bioskop. Karena terlalu senang dengan tawaran ini, Bernie buru-buru mengiyakan sebelum pikiran The Blazing Bandits berubah. Alex awalnya tak yakin, tapi Bernie berhasil membujuknya.

"I don't know Bern," Alex said, "it seems to me like... something fishy about this deal." Ever the optimist, Bernie's response was, "Don't worry Alex. Everything's gonna be just fine." (p.19)

            Sebelum dinyatakan resmi bergabung dalam The Blazing Bandits, Bernie dan Alex harus memenuhi syarat yang diajukan Clark Olsen. Keduanya sangat tegang, tak mempunyai bayangan apa yang harus dilakukan. Ternyata Clark Olsen menyuruh mereka memakan setoples besar mayones untuk masing-masing. Bagi Bernie, ini tak jadi masalah karena ia sangat menyukai mayones. Ia langsung memasukkan sendok demi sendok berisi mayones ke dalam mulutnya. Namun Alex lain ceritanya. Dia tak bisa menghabiskan mayones itu, sekuat apapun ia berusaha. Apakah akhirnya mereka berdua bisa memenuhi syarat yang diajukan The Blazing Bandits? Apakah Bernie dan Alex bisa bergabung dalam kelompok tersebut?

            Cerita tersebut mengawali kisah yang ada dalam The Trouble With Bernie. Ada delapan cerita dalam buku ini, dengan Bernie sebagai tokoh utama. Namun, antara satu bab dengan lainnya tidak berhubungan langsung, jadi pembaca bisa memilih mau membaca bab yang mana dulu. Cerita ini berlatar belakang tahun 1950an, jadi masih banyak ditemui anak-anak yang bermain di rerumputan untuk mencari ular maupun serangga. Meski terbit pada 2004, latar belakang waktu yang diceritakan dalam buku ini terasa sekali, terutama karena tak banyak teknologi yang ikut andil dalam cerita.

            Cerita favorit saya dalam buku ini berjudul "The Penny Hike". Untuk mengisi hari mereka, Bernie dan Alex memutuskan untuk mencoba permainan baru bernama penny hike. Untuk memainkan ini, kita hanya memerlukan sebuah koin untuk dilempar. Sebelumnya, kita memutuskan, misalnya jika koin menunjukkan angka maka kita belok kanan, jika koin menunjukkan gambar perjalanan dilanjutkan dengan belok kiri. Dalam waktu singkat, Bernie dan Alex sangat menikmati permainan ini. Mereka tidak tahu tujuan akhir mereka, tapi justru itulah yang membuat permainan ini seru.

            Permainan terus berlangsung sampai akhirnya mereka melihat seorang nenek yang kelihatan bingung. Bernie memutuskan untuk mendekati nenek tersebut, diikuti Alex. Ternyata nenek itu lupa di mana ia memarkirkan mobilnya. Ia takut sekali untuk menelpon suaminya, khawatir selanjutnya tak boleh membawa mobil sendiri. Untuk menghibur sang nenek, Bernie membelikan es krim, kemudian mengajak nenek bermain penny hike. Nenek ini rupanya sangat antusias bermain penny hike, ia serasa bernostalgia dengan masa kecilnya. Ketika akhirnya sang nenek bisa menemukan mobil itu, ia mengucapkan quote favorit saya:

"There's just one more thing I want to say, then I really must be going. When you wake up one day, a long time from now, and find that you're considerably older than you ever thought you'd be, and when you start to forget things, try hard to remember this one thing....... independence," she told them shaking her finger with each syllable. "In-de-pen-dence." (p. 114)

            Bahasa Inggris dalam buku ini cukup mudah dimengerti. Namun, bukunya memang cukup tebal bagi anak-anak, apalagi yang belum terbiasa membaca cerita dalam Bahasa Inggris. Karena itu, saya merekomendasikan buku ini dibaca anak-anak di atas 12 tahun. 3/5 bintang untuk petualangan (dan masalah) yang dialami Bernie.
0 komentar

Anak dalam cermin dan Cerita2 Lain




Judul: Anak dalam Cermin dan Cerita-Cerita Lain
Judul asli: Dame Topple's Buns and Other Stories
Penulis: Enid Blyton
Alih bahasa: Indri K. Hidayat
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 189 hlm
Cetakan: Kesembilan, Juli 2002


Walau sudah lama keluar, masih pantas di baca buat cerita anak kita ko.

Anak Dalam Cermin ini terdiri dari delapan kisah singkat. Yuk, kita bahas beberapa kisah yang ada di sini.



Kue Kismis Bu Topple
            Pop adalah peri yang sangat rakus. Ia tinggal di Desa Cherry. Kelihatannya, Pop ini tak pernah merasa kenyang. Makanan apapun yang ada di depannya pasti diambil, bahkan ia sering merebut makanan dari orang lain. Penduduk Desa Cherry kesal sekali dengan Pop. Mereka kemudian minta tolong pada Bu Topple, wanita bijaksana di desa tersebut. Aha, ternyata Bu Topple punya ide brilian. Ia akan membuatkan kue kismis untuk Pop. Namun, ini bukan kue biasa. Jika seseorang makan tiga buah kue, semuanya akan baik-baik saja. Tapi, jika orang itu makan empat kue, tubuhnya akan bengkak. Makan lima, pakaiannya mulai sobek. Makan enam, ia akan melayang seperti balon. Makan tujuh, entah apa lagi hal buruk yang akan terjadi. Kira-kira Pop makan berapa buah kue ya? Apa yang akan terjadi dengan tubuhnya?

Dolly Pembuang Waktu
            Dolly tidak pernah langsung mengerjakan sesuatu jika disuruh. Ia pasti menunda-nunda. Pura-pura tidak dengar, atau malah sibuk melakukan hal yang lain. Ibunya sampai kesal, kebiasaan Dolly ini akan merugikan dirinya sendiri. Ibu Dolly pun membuat perjanjian, Dolly harus segera datang kalau dipanggil atau diminta mengerjakan sesuatu. Ibunya tak akan mengulangi permintaan itu. Dolly setuju, tapi tetap saja ia suka membuang-buang waktu. Sampai ia kehilangan kesempatan untuk makan es krim dan bertemu Bibi Mary. Lalu, pada akhirnya Dolly sadar tidak ya kalau membuang-buang waktu itu tidak baik?

Kesalahan Teddy
            Minggu depan Teddy berulang tahun. Sebenarnya, teman-teman sekelas tidak begitu peduli karena Teddy anak yang sombong. Namun, setelah dipikir-pikir lagi mereka ingin memberikan sesuatu pada Teddy. Maka, mereka mengumpulkan uang untuk membeli barang kesukaan Teddy. Tentunya semua merahasiakan kejutan ini. Sayangnya Teddy curiga dan justru merusak hadiah yang akan diberikan pada dirinya. Apa yang akan terjadi selanjutnya?

Anak dalam Cermin
            Ronnie sangat egois, ia tidak mau meminjamkan mainannya kepada orang lain. Ibunya tidak suka Ronnie berbuat seperti ini. Ibunya sampai berharap Ronnie bertemu anak lain yang mirip dengannya agar ia tahu sikapnya itu tidak baik. Sepertinya harapan itu terkabul. Ronnie meengalami kejadian aneh. Ia bisa masuk ke cermin dalam kamarnya, kemudian bertemu anak laki-laki yang sangat mirip dengan dirinya. Anak laki-laki itu tidak mau meminjamkan mainan apapun pada Ronnie. Ronnie sampai kesal sekali. Apa pengalaman ini bisa menyadarkan Ronnie akan sifatnya sendiri?

            Masih ada empat cerita lagi dalam buku ini: Karena Malas, Anak yang Terbelakang, Gara-gara Jinky, dan Kalau Suka Berbohong. Enid Blyton memang penulis yang karyanya tidak pernah lekang dimakan waktu. Sejak dulu saya sangat menyukai karya-karya Blyton. Sekarang saat membaca karya-karya Blyton lagi, saya masih terkagum-kagum dengan imajinasinya.

            Kisah dalam buku ini sederhana, tapi justru itulah kekuatannya. Dari tema yang sederhana, Blyton mampu mengembangkannya menjadi karya yang besar, dan mempunyai nilai-nilai positif bagi anak-anak. Buku ini cocok dibaca bagi siapa saja, terutama mereka yang menikmati karya Blyton ketika kecil. Kisah ini tentu menjadi pintu nostalgia yang manis. Bagi anak-anak, buku ini saya rekomendasikan untuk usia tujuh tahun ke atas. Kisahnya yang tidak terlalu panjang, ukuran bukunya yang kecil dan mudah dibawa kemana-mana pasti membuat anak-anak suka membacanya!

0 komentar