Judul
Novel : Anak Semua Bangsa
Penulis
: Pramudia Ananta Toer
Buku setebal 535 halaman ini
mengambil pov ‘aku’ sebagai Raden Mas Minke. Dia salah satu pemuda pribumi yang
terpelajar dan menulis dalam bahasa Belanda tentang upaya-upaya masyarakat
dalam melawan kolonial, tentang kebangkitan di masa peralihan dari abad 19 menuju
abad 20 yang dimuat di surat kabar pada masa itu. dengan setting kota Soerabia.
Meski ditulis dengan pov ‘aku’
buku ini mengisahkan banyak peristiwa yang tidak dialami si tokoh Minke.
Seperti ada cerita di dalam cerita. Yang dikisahkan melalui orang ke tiga, atau
dikisahkan oleh orang ke tiga. Atau sebagai bahan tulisan Minke sendiri, dari
wawancara-wawancaranya. – sedikit tips : tehnik seperti ini bisa kita gunakan
dalam tulisan kita supaya tulisan tidak terlalu monoton dan kaku, sedikitnya
itu stuktur yang saya dapat.
Minke harus kehilangan Annelies
istrinya, wanita peranankan Belanda yang harus dipulangkan ke Belanda karena
masalah perwalian. Dan Annelies wafat di negara asal para penjajah tersebut.
Minke tinggal bersama ibu mertuanya bernama Nyai Ontosoroh, seorang pengusaha
wanita yang akan kehilangan perusahaannya karena diambil alih oleh anak
tirinya. Sebelumnya Nyai Ontosoroh adalah istri/ gundik dari Robert Melema,
seorang pejabat pabrik gula. Bukan karena ia istri pejabat gubermen yang
membuatnya jadi wanita pengusaha yang tangguh. Tapi karena keuletan dan
kegigihannya sendiri dalam membangun usaha tersebut. Kisah tentang Ontosoroh
sendiri menjadi daya tarik utama dalam novel ini. di mana dahulu ia dijual oleh
ayahnya sendiri pada totok Belanda yang menjadi suaminya.
Sejarah berulang, kemenakan Nyai
Ontosoroh yang bernama Surati hendak dijadikan gundik oleh administratur pabrik
gula dengan sebutan Plikemboh, yang tampang dan perangainya amat menjijikan.
Namun Surati melawan dengan caranya. Sebelum ia menemui lelaki yang
menginginkan dirinya, ia datangi sebuah kampung yang sedang di serang wabah
cacar, kampung yang akan dimusnahkan beserta korban-korban cacar yang
bergelimpangan. (seperti di film Ebola, sebuah kota yang akan dibumihanguskan
karena virus Ebola). Surati mebiarkan tubuhnya dijangkiti Cacar, kemudian
ia mendatangi Plikemboh dan menularkan penyakit cacar kepada pria
tersebut. Surati kehilangan kecantikannya, tubuhnya bopeng-bopeng terkena
cacar demi menumpas pria yang menjadi ketakutan bagi dirinya dan orang-orang di
sekelilingnya.
Juga kisah tentang petani gula
yang lahannya disewa paksa oleh pabrik gula, juga tentang kerja rodi rakyat
yang tidak memilik lahan. –cerita-cerita tragis dan mengiris-
Minke sendiri dikisahkan mengalami
krisis dalam dirinya, dimana ia merasa berjuang untuk bangsa dengan menulis
dalam Belanda namun ternyata itu tidak cukup. Hingga seorang temannya meminta
ia untuk menulis dalam Melayu dan menuduh Minke tidak mengenal bangsa dan
negaranya dengan baik. Ketika melakukan perjalanan bersama ibu mertuanya itulah
Minke mengenal bangsanya lebih dekat. Mengetahui nestapa demi nestapa yang
dialami bangsanya akibat keberadaan kolonial Belanda di Indonesia.
Minke digambarkan sebagai pria
yang berbudi baik pada sesama ataupun pada orang-orang dengan strata lebih
rendah dengannya. Di mana pada masa itu pembagian golongan sangatlah kentara.
Seperti biasa Pramudia menggunakan diksi-diksi yang unik, jarang kita jumpai. Yang
kadang bikin saya ketawa sendiri saking anehnya atau berdecak kagum karena luar
biasa indahnya.
Katanya sih ini termasuk salah
satu roman sejarah, tapi bahasanya enggak mendayu-dayu. Pas sesuai dengan
keadaan, diksi-diksi yang menunjang pada setiap adegan. Sekian dulu ya, nanti
disambung lagi kalau bukunya sudah selesai saya baca....he he he. ^_^

0 komentar:
Posting Komentar